Berjuang, Melintasi Sungai Buaya Muara
| Oleh Sugeng Gondrong |
Menuju Bagan Asam dan Mentuak, dua dusun yang selama 71
tahun Indonesia merdeka belum menikmati listrik dan memiliki akses jalan darat
sampai ke ibu kota desa. Menuju kesana juga mesti melintasi sungai yang dihuni
populasi buaya muara. Mengerikan, namun demi dedikasi, saya mencoba untuk
menjejakkan kaki sampai kesana.
Bagan Asam dan Mentuak, dua dusun paling ujung di
Kecamatan Toba, Sanggau. Masyarakatnya terus berjuang agar mereka juga bisa
menikmati kemerdekaan, sama seperti warga negara Indonesia didaerah lainnya. Dua
dusun ini juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya.
Namun, kondisinya masih memprihatinkan.
Perjalanan pun dimulai. Jam tiga dini hari pada Selasa (4/10), mengendari
kendaraan roda empat ditemani seorang rekan dan Pasi Ter Kodim 1204 Sanggau,
Kapten Inf Eko, kami melaju dari Kota Sanggau menuju Kecamatan Toba, Kabupaten
Sanggau. Tujuan kali ini adalah Dusun Bagan Asam dan Mentuak yang ada di Desa
Bagan Asam, Toba.
Dua dusun ini belum memiliki akses jalan darat untuk
menuju ibu kota kecamatan. Selain itu, sejak dua dusun ini ada, mereka juga
belum menikmati layanan listrik yang disediakan oleh negara. Masyarakatnya
merasa belum merdeka dan masih terisolir dengan kondisi yang ada sampai saat
ini.
Menempuh perjalanan selama 6 jam, kami akhirnya sampai di
Kota Kecamatan Toba. Dari pusat kota butuh sekira 1 jam perjalanan menuju
dermaga kosong-kosong untuk melanjutkan perjalanan ke dua dusun tersebut dengan
menggunakan perahu speed atau long boat.
Untuk mencapai dermaga, kami masih bisa menggunakan
kendaraan roda empat. Kali ini, kami juga ditemani oleh Kapolsek Toba, Aiptu
Sukirman dan dua anggota kepolisian setempat. Agar waktu yang ditempuh tidak
terlalu jauh, kami mengambil jalan pintas melalui lokasi penambangan bauksit di
PT. Alu Sentosa. Sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan gundukan
bauksit di kiri dan kanan jalan.
Lepas dari lokasi penambangan bauksit, kami memilih jalan
kebun sawit sebelum akhirnya sampai di Dusun Kemantan, tempat dermaga
kosong-kosong berada. Jalur yang kami tempuh ini hanya dapat dilalui saat
kering. Jika musim penghujan, jalan akan licin dan sulit dilewati kendaraan.
Tiba di dermaga, jam sudah menunjukkan jam sepuluh siang.
Disana Sekretaris Desa Bagan Asam, Dedi Dores telah menunggu kami dan
mempersiapkan keberangkatan. Setelah mengambil dokumentasi perjalanan dan
membawa barang-barang ke dalam perahu, perjalanan menuju lokasi pun
dilanjutkan.
Untungnya, air sungai sedang pasang. Jika tidak, kami
harus bertaruh nyawa karena banyaknya buaya muara yang mendiami sungai
tersebut. Keberadaan buaya muara di sungai tersebut memang menjadi ancaman.
Saat musim kemarau, binatang jenis reptil ini sering terlihat dipinggiran
sungai sambil berjemur dan menunggu mangsa.
Kami sedikit lega setelah sekdes memastikan bahwa
buaya-buaya tersebut tidak mengganggu manusia. Hal ini dibuktikan-selama ini-
tidak ada korban jiwa akibat keganansan buaya yang mendiami sepanjang aliran
sungai yang akan kami lewati.
Disepanjang tepian sungai terlihat banyak sekali tumbuh
tanaman yang biasa disebut dengan tanaman rasau. Tanaman ini daunnya berbentuk
memanjang. Sama persis dengan daun yang biasa digunakan untuk membuat anyaman
tikar. Namun, menurut pak sekdes, tanaman yang kami lihat bukanlah yang biasa
digunakan untuk kerajinan. Itu hanya tanaman liar yang sejak dulu tumbuh
disepanjang pinggiran sungai.
Saya lantas menanyakan kepada pak sekdes, apakah perahu
speed seperti ini menjadi satu-satunya akses menuju dua dusun tersebut. Dengan
pasti pak sekdes menjawab “Iya,”. Saya membayangkan betapa sulitnya kehidupan
masyarakat disana yang sehari-hari hanya bertani dan sesekali mencari ikan
untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Bukan hanya itu saja, pak sekdes juga menceritakan bahwa
satu orang warga harus mengeluarkan uang sebesar Rp200 ribu untuk pulang pergi
ke pusat pemerintahan desa yang ada di Mungguk Kemantan. Itu belum lagi jika
harus ke ibu kota kecamatannya. Dengan hanya mengandalkan hasil dari bertani
jelas ini kesusahan yang butuh diperhatikan oleh pemerintah daerah.
Meski telah mendengar kondisi ini, tidak puas rasanya
jika tidak mendengar langsung dari masyarakat setempat. Hal ini tentu saja demi
validnya informasi yang akan saya tuliskan sepulang dari dusun tersebut.
Sepanjang perjalanan banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari pak sekdes
mengenai dua dusun ini termasuk kesulitan memperoleh sinyal untuk komunikasi
melalui telepon seluler.
Setelah 45 menit menyusuri sungai, saya dan rombongan
tiba di Dusun Bagan Asam. Deretan jamban ditepian sungai turut menyambut
kedatangan kami. Warga setempat sudah mempersiapkan tempat menginap kami malam
ini. Tanpa ragu kami melangkah melewati pinggiran sungai menuju rumah tersebut.
Dirumah milik pak Kubus, warga setempat, saya lantas
beristirahat dan ngobrol-ngobrol santai dengan pemilik rumah. Satu-dua jam
mengobrol, saya kemudian mohon ijin untuk istirahat sejenak sambil
mempersiapkan sejumlah bahan untukwawancara masyarakat.
Saat saya berada disana, kebetulan sekali sedang ada
kegiatan TMMD Reguler yang dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia. Sejak
pagi prajurit dan warga disana sedang melakukan sejumlah kegiatan pembangunan
rumah ibadah. Jadi saya tidak sendirian.
Usai beristirahat sejenak, sore harinya saya coba
mengunjungi sejumlah rumah warga untuk bersilaturahmi. Masyarakat disini sangat
welcome dengan orang-orang baru yang datang ke daerah tersebut. Ini memudahkan
saya untuk lebih akrab dan bertanya banyak hal.
Sore itu saya berkunjung ke rumah pak Zul, seorang guru
di SMP Negeri 3 Satap Toba. Dia sudah 6 tahun menjadi guru di dusun tersebut.
Dia menggambarkan kondisi yang ada disana. Menurutnya, memang jalan darat dan
listrik sudah diidamkan masyarakat sejak dusun ini berdiri. Namun belum kunjung
terealisasi. Akibatnya, jalur sungai menjadi satu-satunya akses masyarakat.
Begitu juga halnya dengan listrik, kesulitan akan listrik
ini membawa kesusahan tersendiri bagi masyarakat dan juga dirinya. Sejauh ini,
masyarakat berjuang dengan mesin diesel pribadi mereka. Saat malam, dusun itu
biasanya hanya terang dalam satu atau dua jam saja.
Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Julianus
Kubus (61). Dia telah 40 tahun tinggal di dusun tersebut, sampai sekarang
penerangan sifatnya individu saja menggunakan mesin diesel. Bagi warga yang
tidak mampu membeli biasanya menyambung kabel dirumah tetangga. Tetapi ada juga
yang tidak mau dan memilih tetap menikmati gelap tanpa cahaya sedikitpun.
Jelang malam, saya menyudahi pembicaraan dan memutuskan
untuk pulang ke tempat beristirahat. Bermalam di dusun tersebut membuat saya
merasakan langsung bagaimana kehidupan malam disana. Dari pengamatan saya, saat
masuk waktu malam, sebagian warga menghidupkan mesin diesel mereka untuk
penerangan dan sebagian rumah lainnya tetap terlihat gelap.
Disejumlah rumah hanya terlihat cahaya dari emergence
lamp dan juga pelita serta lilin. Inilah gambaran yang saya lihat secara
langsung di dusun tersebut. Bagi mereka yang menghidupkan mesin diesel biasanya
tidak kurang dari 4 jam dan setelahnya dimatikan.
Kondisi ini tidak terlepas dari bahan bakar solar yang
digunakan untuk mesin diesel mereka. Di dusun tersebut, harga solar dikisaran
Rp10 ribu perliter. Satu liter solar biasanya hanya untuk satu jam saja. Jika
menghidupkan mesin diesel selama 4 jam berarti harus mengisi 4 liter solar. Jika
dirata-rata 4 liter untuk satu malam, maka selama sebulan masyarakat harus
mengeluarkan Rp400 ribu hanya untuk penerangan.
Jumlah itu dirasakan sangat besar sekali bagi masyarakat
yang hanya mengandalkan hasil berkebun karet, berladang dan sesekali mencari
ikan. Jumlah itu belum ditambah biaya sehari-hari lainnya. Yang terjadi adalah
high cost economy. Ini juga menjadi masalah baru masyarakat disini. Begitulah
kira-kira gambaran umum yang ada di dusun Bagan Asam yang saya datangi.
Persoalan jalan darat dan listrik serta sinyal ini akhirnya berimbas pada
munculnya high cost economy masyarakat.
Masyarakat telah berupaya selama berpuluh-puluh tahun
untuk merdeka dari kesulitan mereka. Dan saya percaya bahwa pemerintah
kabupaten sanggau akan punya solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi
di daerah ini. Setelah larut malam, saya memilih istirahat untuk melanjutkan
kembali perjalanan ke Dusun Mentuak pagi-pagi sekali esok hari. [*]


Post a Comment