Jutaan
pasang mata tak lagi meliriknya. Organisasi tua ini hanya sekedar disebut untuk
menghormati kejayaannya.
Dulu,
ia bagai permata. Dicari, diburu untuk dimiliki setiap pecahannya. Kini,
jangankan dicari. Dilirik pun tidak. Cahayanya membatu tergerus zaman.
Himpunan,
Dulu,
mereka berjuang tak kenal lelah. Kini, malah banyak yang lelah sebelum berjuang.
Mencaci
sebelum mengerti, hanya memaki tanpa henti dan gila pada simbol-simbol yang tak
banyak berarti.
Meski
kini rumah-rumah mereka lebih megah, tapi tak semegah saat masih bangunan papan.
Tak
banyak lagi sisa-sisa permata yang bisa terlihat. Semua mungkin sirna akibat ketamakan,
kecongkakan, dan keputusasaan. Semoga saja namanya belum tertulis di batu
nisan.



Post a Comment